Target 1.000 Sultan Muda! Kadin Sumsel Expo Ke-4 Bidik Rp60 Miliar dan Bawa Pempek Go Internasional

PALEMBANG,JR.ID – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Selatan kembali menggelar Kadin Sumsel Expo ke-4. Tahun ini, targetnya tidak main-main: mencetak 1.000 sultan muda baru dan mengerek pertumbuhan ekonomi Sumsel hingga 6%.

Expo kali ini berkolaborasi dengan Ikatan Bisnis Ekonomi Kerakyatan (IBEK) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), diikuti hampir 50 peserta dengan potensi transaksi diperkirakan mencapai Rp60 miliar.

Bacaan Lainnya

Ketua Pelaksana mengatakan, Kadin Sumsel Expo sengaja menawarkan peluang bisnis yang tidak padat modal agar mahasiswa pun bisa berbisnis.

“Tujuannya jelas sesuai arahan pemerintah, menciptakan minimal 1.000 sultan muda baru,” ujarnya.

*Pempek Harus Menguasai Indonesia*

Isu utama yang disorot adalah masih banyaknya produk lokal yang belum bisa go nasional apalagi go internasional. Pasar masih dikuasai kelompok tertentu.

Kadin, IFEX, dan HIPMI akan melakukan edukasi bisnis yang benar agar para sultan muda paham dasar bisnis yang tepat.

“Kita dorong produk lokal seperti pempek, celimpungan, es kacang untuk go Indonesia. Targetnya pempek Palembang bisa ditemukan di 513 kabupaten/kota di Indonesia,” tegasnya.

*Kendala UMKM: Tidak Punya SOP dan Hitungan BEP*

Menurut Kadin, kendala utama UMKM Sumsel bukan modal, tapi edukasi standarisasi. Banyak yang tidak punya SOP detail. Contohnya suhu pembuatan pempek, takaran adonan, hingga proses produksi yang tidak konsisten.

Selain itu, banyak pelaku usaha tidak bisa menghitung bisnis dengan benar: modal, pendapatan, pengeluaran, profit, dan BEP (Break Even Point).

Padahal, sistem franchise atau kemitraan sangat bergantung pada standarisasi dan analisis BEP.

“Contohnya gerobak pempek Rp50 juta, profit Rp5 juta per bulan, BEP 10 bulan. Kalau hitungannya jelas, investor pasti tertarik. Kemitraan bisa mempercepat perkembangan bisnis,” jelasnya.

*Jangan Sampai Kalah di Rumah Sendiri*

Kadin dan IFB (Indonesia Franchise & Business) akan bersinergi membantu UMKM memahami sistem kemitraan yang benar. UMKM didorong membuka outlet sendiri, seperti Rumah Pempek Palembang atau Rumah Kacang Merah Palembang, bukan hanya titip jual atau konsinyasi.

Tantangannya, produk pempek di Jakarta justru banyak dibuka oleh non-Pribumi Palembang yang lebih kreatif secara bisnis.

“Jangan sampai kita kalah bersaing di produk kita sendiri. Makanya harus libatkan ahli lokal dan edukasi yang benar,” tutupnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *