PALEMBANG,JR.ID — Selama 18 tahun, Yongmoodo hidup di dalam barak. Bela diri kombinasi mematikan dari Judo, Taekwondo, Hapkido, dan Sirum ini hanya milik tentara. Kini, era itu resmi tamat di Sumatera Selatan.
Tepat Kamis (22/10/2026), di Ruang Parameswara Setda Kota Palembang, tongkat estafet Federasi Yongmoodo Indonesia (FYI) Sumsel periode 2026-2030 diserahkan. Mayjen TNI (Purn) Eka Wiharsa datang langsung melantik Dr. Herison, S.H., M.H. sebagai ketua baru. Sinyal perang baru dimulai.
*Ultimatum dari Jenderal: Stop Manja!*
Di depan pengurus baru, Eka Wiharsa tidak basa-basi. Ia bongkar borok lama: Yongmoodo terlalu manja dengan TNI AD.
“Selama ini kita bergantung pelatih dari TNI AD. Tidak bisa terus begitu. Yogyakarta dan Bali sudah buktikan, tanpa seragam pun mereka bisa cetak atlet standar nasional dari pelajar dan mahasiswa. Sumsel jangan mau kalah!” semprot Eka.
Pesan ini jelas: Yongmoodo Sumsel harus mandiri. Kerja sama dengan TNI AD tetap ada, tapi bukan lagi sebagai induk semang. Sekarang saatnya FYI Sumsel berjalan dengan kaki sendiri.
Terkait target PON, Eka menyebut Kejurnas Bela Diri yang seharusnya Oktober 2026 kemungkinan besar molor ke 2027 karena menunggu keputusan KONI. Waktu ini justru jadi momen emas untuk seleksi petarung-petarung terbaik dari sipil.
*Misi Balas Dendam Sang Ketua Baru*
Dr. Herison tidak datang dengan tangan kosong. Ia datang dengan modal Juara 3 Umum Nasional di Piala Menpora IX 2025. Tapi baginya, itu belum cukup.
“Juara 3 itu bukan prestasi, itu baru pemanasan. Target kita pertahankan, bahkan rebut Juara Umum,” tegas Herison dengan nada tinggi.
Strategi perangnya pun tak main-main dan sangat agresif.
“Langkah pertama saya bereskan dapur dulu. Verifikasi total pelatih dan atlet yang ada. Setelah itu, kita invasi! Kita akan gempur sekolah-sekolah dan kampus di 17 kabupaten/kota se-Sumsel. Kita bangun ekosistem petarung dari bangku SMA hingga kuliah,” ujarnya.
Ia ingatkan, Yongmoodo bukan bela diri kaleng-kaleng. Lahir tahun 2008 di TNI AD atas ide Jenderal Gatot Nurmantyo, baru masuk ke sipil 2012. Ini bela diri militer yang diadaptasi untuk rakyat.
*Pemprov Pasang Badan*
Gebrakan ini dapat dukungan penuh Pemprov Sumsel.
“Prestasi tidak lahir dari kebetulan. Butuh kerja keras, disiplin, dan darah. Kami di Pemprov dukung penuh FYI Sumsel,” ujar perwakilan Wakil Gubernur.
Dispora Kota Palembang pun tak mau ketinggalan. Kabid Pembudayaan Olahraga, Furwadie, menyebut Yongmoodo adalah paket komplit.
“Ini bukan sekadar adu jotos. Ini gabungan teknik bantingan, tendangan, dan kuncian yang membentuk fisik dan mental baja. Dispora siap support penuh untuk cari bibit yang bisa harumkan nama Palembang dan Sumsel,” katanya.
Kini, dengan seragam militer yang mulai dilepas, Yongmoodo Sumsel siap mencetak monster-monster baru dari lorong-lorong sekolah dan kampus. Bukan lagi dari barak. (*)















