Kehadiran Kang Dedy Mulyadi di Kota Palembang Puji Keindahan Kota dan Soroti Masalah Kabud Asap

PALEMBANG,JR.ID — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melihat Kota Palembang sebagai kota yang memiliki modal kuat untuk menjadi tujuan wisata unggulan. Jejak sejarah Kerajaan Sriwijaya, bentang Sungai Musi, hingga kekayaan kuliner menjadi daya tarik yang menurutnya sulit dipisahkan dari identitas kota di Sumatera Selatan itu.

Namun, di balik kekayaan tersebut, Dedi menemukan persoalan yang menurutnya tidak boleh dibiarkan berlarut: kabut asap.

Bacaan Lainnya

Dedi menyampaikan pandangannya saat menghadiri Apel Akbar Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Jumat, 28 Agustus 2026.

Menurut Dedi, Palembang memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari peradaban Nusantara. Nama Sriwijaya, kata dia, menjadi salah satu kekuatan sejarah yang seharusnya dapat terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Belum lagi Sungai Musi yang membelah kota serta kekayaan kuliner khas Palembang. Ia juga menyinggung ikan patin sebagai salah satu kuliner yang dinilainya memiliki cita rasa yang kuat.

“Palembang ini kota yang indah. Ada sejarah Sriwijaya, ada Sungai Musi, ada kuliner ikan patin yang enak,” kata Dedi.

Tetapi, kekaguman itu datang bersamaan dengan catatan keras.

Dedi menyoroti kondisi udara Palembang yang dalam beberapa waktu terakhir diselimuti kabut asap. Menurut dia, persoalan tersebut dapat menggerus potensi kota yang sebenarnya memiliki kekuatan besar di sektor sejarah, pariwisata, dan kuliner.

“Jangan sampai keindahan sejarah, wisata, dan kulinernya tertutup oleh kabut asap,” ujarnya.

Bagi Dedi, persoalan kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan. Jika dibiarkan, dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, termasuk kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga citra sebuah kota.

Palembang, kata dia, memiliki banyak alasan untuk dibanggakan. Karena itu, persoalan asap semestinya menjadi pekerjaan yang harus ditangani secara serius dan tidak berhenti pada respons ketika kabut sudah memenuhi udara.

“Keindahan Palembang harus sejalan dengan kualitas lingkungannya. Kabut asap harus bisa dihilangkan,” kata Dedi.

Sorotan tersebut menjadi relevan di tengah upaya Palembang memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Kota yang ingin menjual sejarah, sungai, dan kulinernya kepada wisatawan tentu membutuhkan kualitas udara dan lingkungan yang mendukung.

Sebab, sebagus apa pun sebuah destinasi, wisatawan tetap membutuhkan satu hal yang paling mendasar: udara yang layak dihirup.

Kritik Dedi sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan kabut asap tidak cukup dilihat sebagai fenomena musiman. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan, penegakan aturan, serta pengendalian sumber asap membutuhkan kerja lintas daerah dan konsistensi pemerintah.

Palembang punya Sriwijaya, Sungai Musi, dan kekayaan kuliner. Tantangannya kini adalah memastikan semua daya tarik itu tidak kalah oleh persoalan asap yang datang setiap musim kemarau. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *