MUBA,JR.ID – Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) terus memacu kesiapan tenaga kerja lokal untuk bersaing di pasar global. Sebanyak 33 orang peserta pelatihan vokasi Bahasa Jepang dan Budaya Jepang saat ini tengah menjalani sesi intensif di Aula UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Sekayu.
Pelatihan ini merupakan bagian krusial dari program magang ke Jepang, yang bertujuan membekali peserta dengan keterampilan teknis, kemampuan bahasa yang memadai, serta pemahaman budaya yang mendalam.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Muba, Herryandi Sinulingga AP, menegaskan bahwa lokasi pelatihan di BLK Sekayu ini adalah pusat pengembangan SDM unggul di Muba.
“ Kami bertekad menciptakan agen perubahan, dan kuncinya bukan hanya keterampilan kerja, tetapi juga adaptasi budaya,” ungkap Herryandi Sinulingga AP. Jumat (5/12).
“Pelatihan ini adalah langkah nyata Pemkab Muba untuk meningkatkan kualitas SDM serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat kita, dengan harapan dapat mengurangi angka pengangguran di daerah.” Ini merupakan langkah langkah cipta sdm unggul muba sesuai visi dan misi Bupati Muba HM Toha Tohet dan Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen Menuju Muba Maju Lebih Cepat dan Masyarakatnya Sejahtera dan tentunya melalui pendidikan vokasi yang kita jalankan ini untuk menciptakan generasi muda muba yang unggul.
Latihan Sumpit (O-hashi): Dibimbing Sensei Zulfikar
Dalam sesi budaya Jepang yang dilaksanakan hari ini, para peserta mendapatkan pelatihan praktik mendalam mengenai etika dan tradisi makan Jepang, dengan fokus khusus pada penggunaan sumpit (Hashi atau O-hashi).
Instruktur budaya, Sensei Zulfikar, secara langsung membimbing peserta untuk menguasai keterampilan ini.
Sensei Zulfikar menjelaskan, menggunakan sumpit di Jepang melibatkan serangkaian aturan (reigi) yang harus dipatuhi, seperti:
Memegang sumpit dengan benar untuk menunjukkan kesopanan.
Menghindari praktik terlarang seperti menusuk makanan dengan sumpit (sashi-bashi), atau mengoper makanan dari sumpit ke sumpit (hiroi-bashi).
Memahami penempatan sumpit saat istirahat makan.
Sementara itu Apri Liansyah, salah satu peserta pelatihan, berbagi pengalamannya: “Kami tidak hanya belajar kosa kata, tapi juga praktik etika. Latihan sumpit ini mengajarkan kami pentingnya kesabaran dan ketelitian, yang merupakan nilai-nilai penting dalam budaya kerja Jepang. Bimbingan langsung dari Sensei Zulfikar sangat membantu kami menguasai tekniknya.”
Dengan fasilitas dan kurikulum yang komprehensif di BLK Sekayu, diharapkan para peserta dapat menjadi duta Indonesia yang tidak hanya profesional, tetapi juga mampu beradaptasi dan menjalin hubungan baik di lingkungan kerja Jepang dan kami berharap pelatihan vokasi seperti ini terus kedepan bisa terus dilaksanakan di Musi Banyuasin ujarnya. (*)



